Ya Allah...
Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak nikmat yang telah engkau berikan kepada ku.
Sudah lebih dari 20 tahun aku menikmati nikmat ini, namun tanpa menyadari akan pentingnya rasa syukur.
Aku merasa malu dengan mereka yang masih kecil saja mampu melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain.
Mereka yang terpaksa bekerja di usianya yang masih kecil, mereka tidak bisa menikmati masa kecilnya. Mereka harus bekerja demi mencukupi kebutuhan bahkan untuk mereka bertahan hidup
Betapa nikmat ini kurang ku syukuri, sekarang aku menyadari itu semua.
Berilah kesabaran kepada mereka agar bisa menghadapi semua cobaan yang mudah-mudahan akan menjadi berkah serta mendapat hikmah di kehidupan mereka selanjutnya.
Betapa hancurnya hati ketika melihat mereka harus melalui itu semua. Satu hal yang harus kita contoh bahwa hidup itu adalah perjuangan. Seperti mereka yang berjuang tanpa mengeluh sedikitpun.
Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk berada di posisi yang sedikit beruntung, berilah kesempatan dan rejeki agar mampu berbagi kepada mereka.
Berilah selalu hidayah kepada kami semua
Kamis, 24 Mei 2018
Rasa Syukur
Sabtu, 24 Februari 2018
Kabut kebahagiaan
Kabut yang sangat tebal, hingga tak mampu aku menembusnya.
Aku tahu ketidakmampuan ku ini, tapi aku berusaha untuk melewatinya.
Aku tidak sehebat mereka yang dengan mudah mampu melewati kabut-kabut gelap itu.
Jauh disana kulihat mereka melambaikan tangan sambil berteriak memberitahu bahwa mereka telah melewati kabut tersebut.
Namun aku tidak akan berputus asa karena aku tidak bisa secepat mereka dalam melewatinya.
Aku tahu kemampuan ku tidak seperti mereka, aku tahu itu semua.
Tapi tidak ada salahnya jika aku ingin seperti mereka..
Aku berusaha sekuat tenaga dan tidak menghiraukan cemoohan orang-orang itu, aku yakin dan percaya bahwa aku pasti bisa melewati kabut gelap yang ada di hadapan saya ini.
Mungkin tidak secepat mereka tapi saya pastikan saya bisa melewatinya meskipun tertatih-tatih penuh goresan luka dan duka yang mendalam.
Tapi itu semua akan ku jadikan latihan agar nanti setelah melewati kabut ini diri yang hina ini tidak mudah untuk berbuat semena-mena dan melukai hati orang lain, dan juga tidak akan memandang rendah atas kemampuan orang lain.
Apapun itu tetap berusaha meski luka yang kau rasa cukup menyiksa, percayalah wahai diri bahwa di balik kabut tebal itu ada sesuatu yang Allah siapkan buatmu. Mungkin sesuatu yang kau nantikan yang selalu menjadi doamu disetiap shalat khusuk yang kau lakukan.
Allah akan gantikan air mata mu itu dengan sesuatu yang membuatmu merasa bahwa Allah menukarnya dengan yang kita katakan sebagai bahagia.
Insyaallah..
Terus berusaha dan berdoa, yakinlah Allah tidak pernah tidur.
Allah hanya sedang mengujiku, seberapa kuat dan siap untuk menerima bahagia itu.