Tampilkan postingan dengan label meraih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meraih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2018

Rasa Syukur

Ya Allah...
Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak nikmat yang telah engkau berikan kepada ku.
Sudah lebih dari 20 tahun aku menikmati nikmat ini, namun tanpa menyadari akan pentingnya rasa syukur.
Aku merasa malu dengan mereka yang masih kecil saja mampu melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk orang lain.
Mereka yang terpaksa bekerja di usianya yang masih kecil, mereka tidak bisa menikmati masa kecilnya. Mereka harus bekerja demi mencukupi kebutuhan bahkan untuk mereka bertahan hidup
Betapa nikmat ini kurang ku syukuri, sekarang aku menyadari itu semua.
Berilah kesabaran kepada mereka agar bisa menghadapi semua cobaan yang mudah-mudahan akan menjadi berkah serta mendapat hikmah di kehidupan mereka selanjutnya.
Betapa hancurnya hati ketika melihat mereka harus melalui itu semua. Satu hal yang harus kita contoh bahwa hidup itu adalah perjuangan. Seperti mereka yang berjuang tanpa mengeluh sedikitpun.
Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk berada di posisi yang sedikit beruntung, berilah kesempatan dan rejeki agar mampu berbagi kepada mereka.
Berilah selalu hidayah kepada kami semua

Rabu, 25 April 2018

Pesan ibu

Saya pernah gagal, bahkan selalu gagal dalam segala hal.
Dulu saya pernah ingin meraih juara 1 namun nyatanya yang saya dapatkan juara ke 2. Saat itu juga saya merasa gagal dan apa yang saya inginkan hanya hayalan.
Dan ketika pulang saya menangis sekencang-kencangnya, dan terus meronta kepada diri sendiri kenapa bukan juara ke 1?? Why?? Apa saya tidak pantes mendapatkan juara Ke 1(berbicara dengan sombongnya). Kemudian ibu saya berkata "nak apapun yang kamu dapatkan ibu tetap bangga denganmu, dan apapun itu pasti yang terbaik dari Allah" seketika saya pun sadar bahwa semua yang terjadi pasti akan terjadi atas izin Allah.
Lalu di semester berikut nya masih dengan semangat yang sangat menggebu-gebu saya berusaha lagi untuk mendapatkan juara ke 1. Apa yang saya dapat?? Alhamdulilah juara ke 1 bisa saya raih.. sayapun pulang dengan bangga nya sampai dirumah saya berteriak-teriak "ibuu lihat lah anakmu, lihat lah aku bisa mendapatkan juara ke 1 Bu" (masih dengan nada yang begitu sombong). Kemudian ibu saya berkata lagi "nak jangan lupa itu semua hanya titipan Allah, ingatlah nak bahwa mempertahankan sesuatu itu jauh lebih sulit daripada saat kita berusaha mendapatkan nya". Saya terdiam tanpa berbicara sedikitpun kemudian sejenak berpikir bahwa yang saya lakukan sekarang adalah berjuang lagi untuk tetap berada di posisi juara ke 1.
Lalu seperti itulah saya terus berusaha dalam mendapatkan apa yang saya inginkan.
Kemudian tiba waktu kelulusan dan saya pun harus mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi. Saya ingin masuk perguruan tinggi yang sangat saya inginkan, namun pada kenyataannya apa yang terjadi? Saya tidak masuk perguruan tinggi tersebut.
Sedih? Tentu saja
Kecewa? Sangat kecewa
Putus asa? Tentu saja tidak
Dan pada saat inilah saya merasakan kegagalan yang sangat besar dalam hidup saya. Saya merasa apa yang sudah saya lakukan sebelumnya tidak berguna, sia-sia dan percuma. Karena apa yang saya inginkan tidak terwujud.
Tapi tanpa rasa lelah dan bosan ibu saya berkata lagi "nak janganlah menyalahkan diri sendiri, jangan mengutuk diri sendiri. Kamu harus bangkit kamu harus sadar bahwa apa yang terjadi sekarang ini pasti yang terbaik. Ingatlah nak jangan sekali-kali berdoa memohon sesuatu kepada Allah untuk mewujudkan keinginan kita tapi berdoalah memohon dan meminta sesuatu yang terbaik untuk kita dan juga orang disekitar kita". Dan lagi saya tersadar, apa yang dikatakan Ibu saya itu adalah benar. Saya sudah salah dalam berdoa sehingga ketika sesuatu tersebut tidak saya dapatkan maka rasa kecewa yang akan muncul.
Sejak saat itulah saya mulai merubah cara saya dalam berdoa.
Terimakasih ibu selalu menjadi motivator dalam hidup ku, selalu menjadi obat penenang dikala gundah melandaku..
Begitu besar peranmu dalam mendidik anak-anak mu, untuk kesalahan yang masih saya lakukan, itu sepenuhnya kesalahan ku. Karena ibu tidak pernah mengajarkan ku untuk berbuat salah.